Kamis, 10 Desember 2009

Mengenal Lebih Dekat sosok Iwan Fals

Oleh : M Dalhar mahasiswa UNS

A. Pengantar Biografi
Semakin banyaknya aliran musik serta band yang berdiri di Indonesia, tidak membuat nama Iwan Fals tergerus oleh berbagai perubahan tersebut. Bahkan walaupun sudah lam, lagu Iwan Fals masih tetap enak untuk didengarkan.
Pria kelahiran 3 September 1961 di Jakarta tersebut sudah menyumbangkan ratusan karya musiknya untuk Indonesia. Lagunya yang begitu khas membuatnya begitu dikenang oleh masyarakat Indonesia. Melalui lagu-lagunya, Iwan menggambarkan kehidupan sosial di Jakarta pada tahun 1970-an hingga sekarang. Selain itu, kritikan terhadap prilaku sekelompok orang, misalnya lagu Wakil Rakyat dan Tante Lisa, atau juga bencana yang melanda Indonesia juga mendominasi tema-tema lagu yang dibawakannya.
Mungkin seseorang hanya memandang Iwan Fals ini hanya sebagai seorang penyanyi. Padahal masa remajanya banyak prestasi bukan dari dunia musikm yang diperolehnya. Misalnya pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk Pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olahraga.
Pada masa kecilnya, pria yang bernama lengkap Virgiawan Listanto tersebut banyak menghabiskan waktunya untuk mengamen di Kota Bandung. Suatu ketika datang ajakan dari seorang produser yang menawarkannya untuk pergi ke Jakarta. Dia kemudian menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam grup Amburadul gagal menembus di pasaran. Iwan kemudian melanjutkan kembali profesinya sebagai pengamen.
Setelah dapat juara di festival Musik Country, Iwan mengikuti festival lagu humor. Lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi dia mengalami kegagalan untuk kedua kalinya. Karyanya tersebut hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja.
Pantang menyerah, Iwan fals terus menciptakan karya musik. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio, dia sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.
Walaupun sudah masuk dapur rekaman, Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.
Selama Orde Baru berkuasa, tidak jarang jadwal acara konser Iwan yang dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis khususnya terhadap pemerintahan.
Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.
Putra pasangan dari Haryoso (ayah) dan Lies (ibu) tersebut menikah dengan Rosanna, atau biasa dipanggil Mbak Yos. Dari pernikahannya tersebut Iwan dikaruniani tiga orang anak yaitu Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.
Putra pertamanya Galang meninggal dunia tahun 1997 secara mendadak. Oleh Iwan nama anak pertamanya tersebut dijadikan salah satu lagu yang berjudul Galang Rambu Anarki pada Album Opini. Album yang yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang tanggal 1 Januari 1981.
“Galang Rambu Anarki, anakku, lahir awal Januari menjelang Pemilu,
Galang Rambu anarki, dengarlah, terompet tahun baru menyambutmu……..”
Di atas adalah sedikit cuplikan lagu karya Iwan Fals untuk mengabadikan putra pertamanya tersebut. Cikal, putri kedua juga diabadikan Iwan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.
Setelah meninggalnya Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri. Seakan dia sudah meninggalkan dunia musik.
Baru pada tahun 2002, Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian anak sulungnya Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals, Mbak Yos juga ikut menyumbangkan suaranya. Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara.
B Organisasi Penggemar Iwan Fals
Sebagai penyanyi dan pencipta lagu yang berbeda daripada yang lain, Iwan Fals mendapatkan tempat istimewa bagi para penggemarnya. Dengan alunan musiknya yang khas, generasi akhir 1970-an hingga sekarang yang merasa terwakili oleh lagu-lagunya tersebut.
Oleh para penggemar fanatik Iwan Fals, didirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang dinamakan Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan sebutan “Oi”. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Bahkan, saking cintanya dengan karya Iwan Fals ini, pernah diadakan Lomba Desain Logo Oi yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Indonesia (YOI). Dalam kontes ini diikuti ratusan peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 di Desa Leuwinanggung No 19, Cimanggis, Depok, Jawa Barat tepatnya di kediaman Iwan Fals. Acara tersebut dilaksanakan mulai hari Minggu samapi Senin (15-16/8/1999), dan setiap peserta maksimal membawa dua buah karya logo Oi.
Dalam lomba desain logo Oi, terpilih dua logo Oi karya HiO Ariyanto dari Oi Bento House Solo sebagai Juara I dan II. Penentuan pemenang Lomba Logo Oi sebagai Juara I dan II ditentukan oleh para peserta Peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 melalui polling dan pemilihan oleh semua peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999.
Logo Oi karya HiO Ariyanto yang mendapat Juara I. Mulai tanggal 16 Agustus 1999, ditetapkan Hari Jadi Oi dan menggunakan logo karya HiO Ariyanto sebagai logo resmi Organisasi Penggemar Iwan Fals atau biasa disebut Oi.
Selain itu, dalam Silaturahmi Nasional Oi 1999 Lagu “Oi” karya Digo Dzulkifli dari Oi Bandung terpilih sebagai Pemenang Lomba Cipta Lagu Mars Oi. Dan ditetapkan sebagai Lagu Mars Oi.

C. Karya-Karya Iwan Fals
Sebagai seorang musisi kawakan seperti Iwan Fals, menciptakan sebuah lagu tidak lain bagaikan sebuah celotehan omongan semata. Oleh karena itu wajar saja jika karena begitu banyaknya lagu Iwan, sampai-sampai ada lagu ciptaannya yang laku di pasaran maupun tidak.
Tidak seluruh album yang dikeluarkan Iwan Fals berisi lagu baru. Pada tahun-tahun terakhir ini, Iwan Fals sering mengeluarkan rilis ulang lagu-lagu lamanya, baik dengan aransemen asli maupun dengan aransemen ulang. Pada tahun-tahun terakhir ini pula Iwan Fals lebih banyak memilih berkolaborasi dengan musisi muda yang berbakat.
Banyak juga lagu Iwan Fals yang tidak dijual secara bebas. Lagu-lagu tersebut menjadi koleksi ekslusif para penggemarnya dan kebanyakan direkam secara live. Beberapa lagu Iwan Fals yang tidak dikomersialkan seperti lagu Pulanglah yang dinyanyikan khusus untuk almarhum Munir ternyata sangat digemari yang akhirnya direkam ulang dan dimasukkan kedalam album terbarunya yang beredar di tahun 2007.
Di bawah ini akan disebutkan sebagian karya-karya Iwan Fals.
In Collaboration with (2003)
Canda Dalam Nada (1979), Canda Dalam Ronda (1979), Perjalanan (1979), 3 Bulan (1980), Sarjana Muda (1981), Opini (1982), Sumbang (1983), Barang Antik (1984), Sugali (1984), KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) (19850, Sore Tugu Pancoran (1985), Aku Sayang Kamu (1986), Ethiopia (1986), Lancar 1987 (1987), Wakil Rakyat (1988), 1910 (1988), Antara Aku, Kau Dan Bekas Pacarmu (1988), Mata Dewa (1989), Swami I (1989), Kantata Takwa (1990), Cikal (1991), Swami II (1991), Belum Ada Judul (1992), Hijau (1992), Dalbo (1993), Anak Wayang (19940, Orang Gila (1994), Lagu Pemanjat (bersama Trahlor) (1996), Kantata Samsara (1998)

Best Of The Best (2000)
Suara Hati (2002), In Collaboration with (2003), Manusia Setengah Dewa (2004), Iwan Fals in Love (2005), 50:50 (2007), Untukmu Terkasih (2009).
Yang menarik adalah setiap karya Iwan Fals dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana kondisi Indonesia secara umum pada saat itu. Misalnya lagu Wakil Rakyat. Lagu yang diedarkan tahun 1987 tersebut menggambarkan wakil rakyat yang suka tidur pada waktu sidang dianggap menghina pejabat negara. Lagu ini bahkan sempat di cekal oleh Orde Baru tidak boleh ditayangkan di televisi karena dianggap mengganggu stabilitas politik.
Contoh lain adalah Sarjana Muda. Lagu yang dirilis tahun 1981 tersebut menggambarkan tentang lulusan sarjana yang kesulitan mencari kerja. Masih banyak lagu lainnya, yang apabila digali kita dapat mengetahui kondisi sosial yang terjadi saat lagu tersebut dibuat.
Itulah yang membedakan Iwan Fals dengan penyanyi saat ini yang cenderung cengeng karena cinta. Ini bukan berarti lagu Iwan Fals tidak ada yang bernada cinta. Misalnya album in love yang dirilis pada tahun 2005. Dalam album ini berisi 16 buah lagu yang menceritkan tentang percintan. Tak akan ditemukan lagu yang berlirik menyindir politik seperti dalam album-albumnya terdahulu. Hits singel dalam album ini adalah Ijinkan Aku Menyayangimu.
Kerena begitu besar sumbangan Iwan Fals bagi dunia musik Indonesia, tidak jarang berbagai penghargaan dia sabet karena karya terbaiknya. Sedikitnya ada 29 penghargaan yang diterimanya dari berbagai instansi, baik itu pemerintah maupun swasta.



Daftar Pustaka
Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Iwan_Fals. Pada hari Selasa (8/12). pukul 19.35 WIB.
Diakses dari http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/02/biografi-iwan-fals.html. Pada hari Selasa (8/12). pukul 19.35 WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar